
|
Iman's Plenty Words;
![]() Let's da'ie
Credits;
Template :FarahDiniBasecodes :1 2 3 The Owner : Aida Nur Iman Best Views :B T O B |
Maafkan Saya :'(
![]()
Maaf, kak. Saya tak berniat pun. Janganlah marah sangat. Saya janji, InsyaAllah saya tak buat lagi. Asif Jiddan, ya ukhti.
Dari Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah saw bersabda: Musa bin Imran as pernah berkata, “Wahai Tuhanku, siapakah orang yang paling mulia pada pandanganMu? Allah swt menjawab: Barangsiapa yang memberi maaf meskipun dia memiliki kemampuan untuk membalas dendam.”(HR Baihaqi)
Dari Muaz r.a meriwayatkan bahawa baginda Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menelan kemarahannya sedangkan dia berkuasa untuk membalas kemarahannya itu, maka pada hari kiamat kelak Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk dan dia diberi peluang untuk memilih bidadari mana sahaja yang dia sukai.”(HR Abu Daud)
Dari Atta bin Abdullah Khurasani r.a meriwayatkan bahawa, Rasulullah saw bersabda: “Berjabat tanganlah di antara kamu kerana ia akan menghapuskan kebencian, dan berilah hadiah antara satu sama lain kerana ia akan menimbulkan kasih sayang dan menjauhi permusuhan.” (HR Muwatta Imam Malik)
Mereka bertanya kepadamu tentang hal yang mereka nafkahkan (kepada orang). Katakanlah, "al-'afw" (yang berlebih dari keperluan) (QS Al-Baqarah [2]: 219).
Yang berlebih seharusnya diberikan agar keluar. Keduanya menjadikan sesuatu yang tadinya berada di dalam yakni dimiliki menjadi tidak di dalam dan tidak dimiliki lagi. Akhirnya kata al-'afw berkembang maknanya menjadi keterhapusan. Memaafkan, berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati. Jika dibandingkan ayat-ayat yang berbicara tentang taubat dan maaf, kita akan ditemukan bahwa kebanyakan ayat tersebut didahului oleh usaha manusia untuk bertaubat. Sebaliknya, tujuh ayat yang menggunakan kata 'afa, dan berbicara tentang pemaafan semuanya dikemukakan tanpa adanya usaha terlebih dahulu dari orang yang bersalah. Perhatikan ayat-ayat berikut: "Allah mengetahui bahwa kamu mengkhianati dirimu sendiri ( dengan tidak dapat menahan nafsumu sehingga bersetubuh di malam hari bulan Ramadhan dengan dugaan bahwa itu haram) maka Allah memaafkan kamu" (QS Al-Baqarah [2]: 187). "Allah memaafkan kamu, mengapa engkau memberi izin kepada mereka, sebelum engkau mengetahui orang-orang yang benar (dalam alasannya) dan sebelum engkau mengetahui pula para pembohong?" (QS Al-Tawbah [9]: 43). "Balasan terhadap kejahatan adalah pembalasan yang setimpal, tetapi barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, ganjarannya ditanggung oleh Allah" (QS Al-Syura [42]: 40). Perhatikan juga firman-Nya dalam surah Ali-'Imran ayat 152 dan 155, juga Al-Maidah ayat 95 dan 101. Ternyata tidak ditemukan satu ayat pun yang menganjurkan agar meminta maaf, tetapi yang ada adalah perintah untuk memberi maaf. "Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada Tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?" (QS Al-Nur [24): 22). Kesan yang disampaikan oleh ayat-ayat ini adalah anjuran untuk tidak menanti permohonan maaf dari orang yang bersalah, melainkan hendaknya memberi maaf sebelum diminta. Mereka yang enggan memberi maaf pada hakikatnya enggan memperoleh pengampunan dan Allah Swt. Tidak ada alasan untuk berkata, "Tiada maaf bagimu", kerana segalanya telah dijamin dan ditanggung oleh Allah Swt. Perlu dingatkan juga, bahawa pemaafan yang dimaksud bukan hanya menyangkut dosa atau kesalahan kecil, tetapi juga untuk dosa dan kesalahan-kesalahan besar. Dalam surah Al-Baqarah ayat 51-52, berbicara tentang pemaafan Allah bagi umat Nabi Musa a.s. yang mempertuhankan lembu: "Dan (ingatlah) ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah empat puluh hari, lalu kamu menjadikan anak lembu (yang dibuat dari emas) untuk disembah sepeninggalnya, dan kamu adalah orang-orang yang zalim. Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur" (QS Al-Baqarah [2]: 51-52). Artikel di atas telah hamba copy di www.media.isnet.org. Hamba yakin, kalau anda search di google anda tidak akan berjumpa dengan web ini. Hoho.. Hanya hamba yang tahu. Kalau nak tahu tanya hamba. Ok Baik! Kita kembali kepada tajuk. Nah! Tadi kita sudah diperlihatkan tentang maaf dari al-Quan bukan? Artikel di atas juga ada menyebutkan jika kita tidak memberi maaf kepada orang lain adakah kita tidak mahu menerima pengampunan Allah? Apa yang dapat kita ambil di sini ialah, jangan terlalu sombong. Tidakkah anda tahu bahawa meminta maaf dan memberi maaf itu adalah suatu kenikmatan? Anda kata ia bukan satu kenikmatan? Di mana kenikmatan meminta maaf dan memberi maaf? Anda tidak percaya? Hamba percaya? Sekali lagi, saya minta maaf sangat kak! :'(
Iman's Sweet Kalimah at 04:25 0 Advice(s)
|